Disini kita akan kembali ke konsep paling dasar yaitu prinsip analisa KG serta filosofi pergerakan harga dengan menggunakan data yang paling mentah yaitu chart polos alias naked chart. Tujuannya agar kita bisa memahami bagaimana prinsip dan filosofi itu bekerja dibalik pergerakan harga pada chart kita. Nanti setelah kita benar-benar memahami ini baru kita mulai menggunakan alat bantu (tools/indikator, atau garis-garis apalah) apabila memang dibutuhkan. Semoga dengan ini pemahaman dan kemampuan kita membaca pergerakan harga semakin bertambah, dan otomatis digit equity kita bertambah juga, lalu cita-cita membangun bangsa yang makmur dan kuat bisa terwujud, amin.
Oke kita mulai.....
Setelah sebelumnya kita bahas bagaimana sesungguhnya mekanisme pergerakan harga maka sekarang kita akan belajar untuk memahami pergerakan harga itu sendiri di chart kita. Jadi nanti ketika kita melihat chart kita benar-benar mengerti apa sih yang sedang terjadi di market melalui apa yang digambarkan oleh datablock dan semua tools yang kita gunakan.
Kita tidak akan bahas lagi prinsip pertama karena itu sih harusnya sudah benar-benar tertanam, prinsip kedua juga lewat saja karena aplikasinya sudah dibahas di tulisan Mekanisme Pergerakan Harga sebelumnya, jadi kita sekarang langsung ke prinsip ketiga analisa KG:
"Kemana Kecenderungan Arah Pergerakan Harga Tergantung Sepenuhnya Pada Akumulasi
Transaksi-Transaksi Yang Mendominasi Pada Saat Pelaku Pasar Bertransaksi Di Pasar Mata
Uang"
Kita sudah paham mekanisme pergerakan harga kemarin kan yah? Untuk terjadi transaksi atau deal maka untuk setiap satu volume beli harus ada satu volume jual, jadi harus ada orang yang mau beli (buyer) dan orang yang mau jual (seller) dengan volume yang sama. Harga naik karena volume permintaan beli di harga itu lebih besar daripada volume penawaran jual, jadi stok barang sudah habis sementara permintaan masih ada dan penawaran seller berikutnya ada di harga yang lebih tinggi, yah terpaksa buyer harus beli lebih mahal. Dan harga turun karena volume penawaran jual di harga itu lebih besar daripada volume permintaan beli, jadi pembeli sudah tidak ada sementara ada stok berlebih yang hendak dijual dan permintaan berikutnya ada di harga yang lebih rendah, terpaksa deh seller harus jual lebih murah.
Simpel kan? Kalau itu masih rumit begini saja deh mikirnya, harga naik karena buyer berani beli lebih mahal dan harga turun karena seller berani jual lebih murah. Itu saja deh yah biar nggak pusing.
Ketika harga naik walaupun itu hanya 1 pip kita bisa karatakan bahwa buyer win karena secara akumulasi saat itu lebih banyak minat beli daripada minat jual, atau bisa juga dikatakan buyer lebih dominan. Sebaliknya juga ketika harga turun walaupun itu hanya 1 pip kita mengatakan bahwa seller win karena secara akumulasi saat itu lebih banyak minat jual daripada minat beli, atau kita biasa katakan seller lebih dominan.
Nah kalau dilihat secara akumulatif dari transaksi yang terjadi memang ketika harga naik buyer lebih dominan hingga dikatakan buyer win dan ketika harga turun seller yang lebih dominan hingga dikatakan seller win. Tapi nih, kalau saya boleh bilang jujur coba kita lihat dari kacamata pedagang, ketika harga terus naik yang menang sebetulnya bukan buyer lho, tapi seller yang menang! Kenapa? Karena mereka berhasil memaksa buyer untuk membeli lebih mahal lagi. Nah ketika harga terus turun juga begitu, sebetulnya bukan seller yang menang tapi malah buyer! Karena mereka berhasil memaksa seller untuk menjual lebih murah lagi. Hehehe, benar kan yah?
Tapi itu sekedar agar kita tahu saja yah, pada prakteknya kita akan tetap memegang prinsip akumulasi untuk mengatakan bahwa buyer dominan atau seller dominan.
Oke sekarang kalau kita lihat chart bagaimana kita bisa katakan bahwa harga naik atau harga turun? Dengan membandingkan harga sekarang dengan sebelumnya, bisa itu satu detik yang lalu, satu menit yang lalu, satu jam, satu hari, atau bisa sepuluh tahun yang lalu. Dalam kasus analisa chart sebelum kita bisa mengatakan harga naik atau turun kita harus tahu dulu kita melihat harga itu darimana kemana. Kalau darimana dan kemana ini beda maka kesimpulan bahwa harga naik atau turun (atau malah sama) juga bisa berbeda.
Misal pada chart berikut:
Yaitu: Ketika Salah Satu Pelaku Pasar Tidak Dapat Menerima Harga Di Atas Harga
Tertinggi atau Di Bawah Harga Terendah Yang Terjadi. Kedua Yaitu: Ketika Volume
Transaksi Yang Dilakukan Pelaku Pasar Di Pasar Mata Uang Jumlahnya Sedikit Atau Kecil.
Dan Kecil Atau Sedikitnya Volume Transaksi Yang Terjadi Ini Kemungkinannya Hanya
Disebabkan Oleh Dua Hal Yaitu, Pertama Mungkin Karena Pelaku Pasar Yang Aktif Di Pasar
mata Uang Saat Itu Memang Sedikit Dan Yang Kedua Mungkin Saja Pelaku Pasar Yang Aktif
Saat Itu Banyak Tetapi Mereka Tidak Bertransaksi Karena Menunggu Saat Yang Tepat
Untuk Bertransaksi Di Pasar Mata Uang"
Jadi dominasi melemah karena pelaku pasar tidak mau menerima melebihi harga tertinggi atau terendah, atau karena volume transaksi kecil. Pada bahasan kali ini kita belum bicara masalah volume karena itu berhubungan dengan timing, kita baru bicara datablock secara individu. Karena itu harga tertinggi dan terendah pada suatu datablock kita asumsikan karena pelaku pasar tidak mau lagi menerima harga melebihi harga tertinggi dan terendah. Buyer tidak mau lagi membeli lebih mahal dari high dan seller tidak mau lagi menjual lebih murah dari low.
Kita lihat gambar lagi.






















